Kebakaran biasanya membawa malapetaka yang tak jarang pula menelan korban jiwa. Lain halnya kebakaran di lokasi bencana tanah longsor di kaki Gunung Mandalasari, Garut.  Kobaran api di tengah banjir lumpur dan batu ini  justru menjadi sarana penyelamat.

Lima puluh tiga tahun lalu, Allah menakdirkan aku lahir di bumi-Nya yang indah dan sejuk yang terletak di kaki Gunung Mandalasari. Di  Kampung Bojong Jambu, Desa Mandalasari, Kabupaten Garut inilah aku dibesarkan. Di daerah ini pula aku membina kehidupan rumah tangga hingga aku dianugerahi banyak anak.

Sebagai buruh tani, aku jalani kehidupan rumah tanggaku dengan penuh kebahagiaan. Tak jauh dari rumahku mengalirlah air yang bersih dan jernih dari atas pegunungan melalui sungai kecil yang melintas di depan rumahku. Seperti biasanya bila hujan deras, permukaan air sungai terlihat bertambah naik. Kalau sudah begitu, aku selalu berupaya membersihkan saluran air dari kemungkinan terjadinya penyumbatan aliran sungai.

Saat musibah tanah longsor, aku sama sekali tak menduga sebelumnya. Hujan yang turun cukup deras kala itu aku anggap seperti hujan yang turun seperti biasanya. Selasa, 28 Januari 2003 sekitar pukul 20.00 WIB,  hujan deras turun dibarengi petir yang menyambar yang seolah memecahkan gendang telinga. Bersamaan dengan itu pula listrik padam, hingga suasana menjadi gelap gulita.

Dengan dibantu alat penerangan ala kadarnya, aku sengaja menyempatkan diri menengok aliran sungai. Aku lihat memang permukaan air sungai sudah mulai naik. Tak lama kemudian aku ambil cangkul dan langsung turun ke sungai untuk membersihkan sumbatan-sumbatan yang ada.

Pertama kali ketika aku turun ke sungai, ketinggian airnya sudah mencapai lutut. Saat aku turun ke sungai aku rasakan betapa derasnya aliran air yang menerjang lututku. Aku belum menyadari akan terjadi musibah yang lebih dahsyat lagi. Aku tetap saja membersihkan aliran sungai walau di bawah guyuran hujan yang cukup deras dan sambaran petir.

Tak lama kemudian, aku merasakan detik demi detik ketinggian air malah bertambah naik sampai setinggi pinggang. Naiknya ketinggian air ini aku rasakan ada sesuatu yang aneh. Aku rasakan aliran air ini agak kotor. Setelah aku perhatikan ternyata yang mengalir adalah tanah lumpur. Saat itu aku masih tetap tidak beranjak dari tengah-tengah sungai.

Tubuhku terasa diterjang oleh sesuatu. Aku perhatikan ternyata yang menerjang tubuhku adalah batang pohon besar yang terbawa arus. Saat itu pula aku loncat dari sungai dan berlari ke rumah sambil memberitahu para tetangga dengan berteriak, “Longsor…longsor…longsor…!!”

Dalam suasana gelap-gulita secara serentak masyarakat lari tunggang-langgang menyelamatkan diri. Mereka tak peduli harta bendanya. Jeritan tangis dan teriakan minta tolong serentak membahana dan terasa sangat memilukan. Tidak sedikit warga masyarakat lari menyelamatkan diri masuk bangunan masjid yang berada di tengah-tengah lokasi bencana yang  sehari-hari dipakai  sebagai tempat shalat berjamaah.

Hanya suara alunan istighfar dan takbir, Allahu Akbar…Allahu Akbar secara bersaut-sautan menjadi kata-kata yang bisa diucapkan kala itu. Ada pula yang lari menyelamatkan diri ke lokasi yang lebih tinggi dan aman.

Dalam suasana yang sangat mengerikan itu, yang terbesit dalam hati sebagian masyarakat adalah upaya menyelamatkan diri masing-masing. Suasana saat itu sangat mencekam dan mengerikan. Aku lihat banjir lumpur yang mendorong batu-batu besar dari atas gunung menerjang semua yang dilewatinya. Aku lihat satu per satu rumah luluh-lantak, roboh rata dengan tanah, lalu tertimbun lumpur dan bebatuan.

Suara gemuruh banjir lumpur, suara sambaran petir dan suara benturan antarbatu yang mengeluarkan cahaya berpadu menjadi satu. Betul-betul sangat mengerikan.  Benturan batu yang menerjang rumah-rumah bilik inilah rupanya yang juga merobohkan lampu-lampu minyak tanah di beberapa rumah bilik. Rumah-rumah bilik yang terbuat dari kayu dan bambu itu pun terbakar. Tak kurang delapan rumah terbakar yang apinya terlihat berjalan di atas banjir lumpur.

Dengan kobaran api ini, kondisi yang semula gelap gulita berubah sedikit menjadi relatif cukup terang. Aku melihat kobaran api ini seolah menjadi sarana bagi warga masyarakat untuk menyelamatkan diri.

Sambaran kilatan sinar petir pun sangat membantu penerangan bagi suasana yang gelap gulita. Aku bersama beberapa orang dewasa lainnya bisa menolong orang yang terlihat tertimbun lumpur. Ada yang hanya kelihatan kakinya, langsung ditarik bersama-sama. Ada pula yang hanya kelihatan pergelangan tangannya atau kepalanya saja, juga langsung diangkat sama-sama. Posisi orang saat yang tertimbun lumpur bermacam-macam. Saat itu pula tidak sedikit orang bisa terselamatkan jiwanya. Peristiwa ini berlangsung tidak kurang enam jam lamanya.

Alhamdulillah, kondisi keluarga dan rumahku selamat dari amukan banjir lumpur dan batu. Keesokan harinya, aku bersama yang warga lainnya melihat-lihat lokasi bencana. Ternyata, tidak kurang dari 50 rumah di kampungku yang sudah rata dengan tanah.

Setelah aku melihat-lihat hamparan lumpur dan batu yang menerjang beberapa rumah yang rata dengan tanah, Subhanallah, ternyata dua di antara tiga bangunan masjid yang ada di kampungku masih utuh. Dua masjid inilah yang menjadi tempat penyelamatan diri oleh beberapa warga. Bila dilihat dan  dipikir secara logikaku, mestinya bangunan masjid pun ikut runtuh.  Tapi yang aku lihat, Subhanallah, jangankan masjid itu runtuh, kondisi dalam masjid pun masih tetap bersih tidak ada lumpur dan batu yang masuk di dalamnya.

Setelah enam jam peristiwa yang sangat mencekam dan mengerikan itu terlewati, kini keluargaku dan sebagian besar warga kampungku hidup di tempat-tempat pengungsian. Hari-hari panjang yang aku jalani saat ini serba tidak tentu. Ketika kejenuhan menghinggapi hidupku dan para pengungsi lainnya, saat itu pula kadang aku sempatkan diri untuk melihat lokasi bencana.

Sambil melihat-lihat lokasi, kadang pikiranku menerawang kembali mengenang saat-saat bencana itu terjadi. Betapa terasa bulu kuduk berdiri. Tak terasa bulir-bulir air mata mengalir di pipiku jika aku ingat kembali saat-saat mencekam dan mengerikan saat itu.

Dalam perenunganku, aku rupanya masih layak mengungkapkan rasa syukur kepada Allah atas musibah ini. Betapa tidak, di tengah-tengah kondisi gelap gulita, aliran lumpur yang membawa bebatuan menerjang rumah-rumah, tiba-tiba Allah SWT masih memberikan pertolongan kepada hamba-Nya melalui pemberian penerangan lewat sambaran sinar petir dan kobaran api dari rumah-rumah yang terbakar.

Aku bayangkan, bila saat itu tidak ada sambaran kilat petir, kobaran api rumah yang terbakar dan percikan api dari benturan batu-batu yang besar, maka kondisinya akan tetap gelap-gulita yang tidak menutup kemungkinan akan banyak jatuh korban jiwa yang tidak tertolong.

Kini hari-hariku penuh ketidakpastian, apakah aku dan keluargaku akan bisa kembali menempati rumah bekas bencana atau mau pindah atau dipindahkan ke tempat lain. Ini semua belum jelas dan sampai kapan akan aku lalui perputaran roda kehidupan semacam ini? Aku berharap pemerintah bisa segera mendapatkan jalan keluar bagiku dan para pengungsi lainnya.

Di tengah-tengah kehidupan yang penuh dengan ketidakpastian ini, justru aku sangat khawatir dengan adanya bencana susulan yang bisa jadi lebih berbahaya dari sekadar bahaya banjir lumpur dan batu. Bencana susulan yang sangat aku khawatirkan adalah bencana pemurtadan.

Akhirnya, aku hanya bisa berharap dan memohon kepada Allah SWT, mudah-mudahan saudaraku seiman yang sedang terkena musibah senantiasa mendapat pertolongan-Nya dari bencana pemurtadan yang bisa menyengsarakan bagi kehidupan dunia dan akhirat. (arsip majalah Sabili edisi 1/XV)

Seperti dituturkan D di Kampung Bojong Jambu Desa Mandalasari Kabupaten Garut kepada Tardjono Abu M. Muadz.

Sumber: www.sabili.co.id