By: Izzna Putri
(The Host of Ramadhan ceria, Motivasi dan Inspirasi Ramadhan)

“Keindahan corak dan warna pada manusia terpancar dari hati-hati yang bersih, hati yang selalu mengingat sang Rabbul Izzati.”

Ulat dan kupu-kupu adalah binatang yang diciptakan Alloh dengan segala perbedaan diantara keduanya. Ulat adalah binatang yang sering kali dijauhi bahkan ditakuti orang karena dianggap menjijikkan dan menyebabkan kulit terasa gatal jika bulu-bulu halusnya menempel dikulit. Pergerakan tubuh ulat pun sangat lambat. Ulat juga diasosiasikan sebagai hama tanaman karena selalu menggerogoti daun-daunan di lahan perkebunan.

Namun sebaliknya, saat kita bicara tentang kupu-kupu. Pasti yang terlintas adalah keindahan warna dan corak sayapnya yang memukau. Bahkan sebagian orang mengatakan bahwa kupu-kupu adalah lambang keindahan. Kupu-kupu memiliki pergerakan yang cukup cepat. Ia adalah mahluk ciptaan Alloh yang membantu bunga-bunga untuk melakukan proses penyerbukan dengan bunga yang lain. Hal tersebut dilakukan kupu-kupu saat mereka mengisap madu atau sari bunga yang secara tidak langsung juga ikut membantu proses penyerbukan.

Sobat, perlu kita tahu bahwa ulat dan kupu-kupu adalah satu. Seekor kupu-kupu nan cantik dengan corak dan warna sayapnya adalah hasil dari transformasi ulat menjadi kupu-kupu. Ulat sangat dihindari dan ditakuti oleh sebagian orang karena sifat dan bentuk tubuhnya. Namun, setelah bertansformasi menjadi kupu-kupu, banyak orang mengagumi, berdecak kagum hingga para peneliti pun banyak membuat penangkaran kupu-kupu untuk dilindungi dan dikembangbiakkan dengan salah satu alasan menjaga beragam keindahan corak dan warna sayapnya yang memukau.

Proses transformasi kupu-kupu bukanlah hal yang mudah. Proses tersebut adalah proses yang berat bagi ulat dan tidak semua ulat bisa melakukannya. Seringkali kita melihat kepompong yang layu dan mati karena ulat yang ada di dalam kepompong itu tidak dapat keluar.

Sobat, ada sebuah cerita yang menggambarkan bagaimana seekor ulat mencoba mentransformasikan dirinya menjadi seekor kupu-kupu, yang menggambarkan betapa sulitnya perjalanan sang ulat untuk menjadi seekor kupu-kupu.

Pada suatu hari disebuah pohon hiduplah beberapa ekor ulat kecil yang sedang asyik berbincang sambil memakan daun-daunan. Itulah yang dilakukan mereka sepanjang hari. Lalu datanglah seekor kupu-kupu yang memiliki sayap yang indah hinggap pada pohon tersebut. Melihat kedatangan kupu-kupu itu, seekor ulat kecil memberanikan diri untuk bertanya kepadanya.

“Engkau siapa?” tanya seekor ulat.

“Aku adalah kupu-kupu, aku adalah ibu kalian…” kata kupu-kupu.

“Apakah benar engkau adalah ibu kami? Tidak mungkin! Engkau memiliki sayap yang indah dan juga bisa terbang kemana-kemana. Sedangkan kami tidak.” Ucap sang ulat.

“Benar nak, aku adalah ibu kalian. Dahulu ibu juga seperti kalian, seekor ulat kecil yang berjalan lambat, tetapi kalian juga bisa seperti Ibu jika kalian mau.” Ujar sang Ibu kupu-kupu.

“Ah yang benar Bu? Tapi bagaimana caranya agar kami bisa mendapatkan sayap yang indah seperti yang Ibu miliki?” Tanya sang anak ulat dengan wajah memelas.

“Hal itu tidak mudah nak, engkau harus mengikuti tata caranya. Apakah kalian mau?” Tanya Ibu kupu-kupu.

“Benar Bu, kami siap!” Jawab anak ulat dengan tegas.

“Baiklah, Ibu akan memberitahu semua caranya; pertama-tama kalian tidak boleh lagi memakan daun. Kalian harus berpuasa. Kedua, pada waktu kalian berpuasa kalian harus menahan segala macam godaan yang datang kepada kalian. Ketiga, setelah beberapa hari kalian akan mengeluarkan air liur yang sangat banyak, maka lilitlah tubuh kalian dengan air liur sampai tubuh kalian tertutupi keseluruhannya oleh air liur tersebut. Hingga akhirnya air liur itu membentuk sebuah kepompong yang kuat dan kalian diamlah di dalamnya sampai kalian mempunyai sayap, mempunyai kaki yang baru, dan mempunyai belalai untuk menghisap madu. Tetapi kalian harus ingat, kalian harus sekuat tenaga menahan segala macam godaan yang datang kepada kalian. Apakah kalian sanggup untuk melaksanakan semua itu?”

“Iya Bu kami sanggup!” Jawab anak ulat serentak.

“Oh ya, setelah semua selesai barulah kalian bisa keluar dari kepompong tersebut. Nah, sekarang jika kalian sudah mengerti. Ibu akan terbang mengelilingi taman ini untuk membantu para bunga berkembangbiak. Selamat berjuang anakku..” Tegas sang Ibu kupu-kupu.

Akhirnya, dengan segera sebagian anak-anak ulat melakukan apa yang diperintahkan oleh ibunya, tetapi sebagian diantara mereka masih tidak percaya dan mereka malah mencemooh apa yang dikatakan oleh Ibu kupu-kupu.

“Ah, aku tidak percaya kalau dengan puasa kita bisa memiliki sayap yang indah. Lagipula kalau kita puasa kan kita tidak bisa memakan daun-daunan segar lagi dan tidak bisa minum dan aku pasti akan sangat kelaparan. Ah aku tidak mau berpuasa.” Ucap seekor anak ulat.

“Baiklah, itu terserah kamu saja. Tapi kami akan buktikan kalau perkataan Ibu itu benar, dengan berpuasa kami akan menjadi seekor kupu-kupu yang cantik.” Jawab anak ulat yang lain.

Selanjutnya, 5 ekor anak ulat itu melakukan apa yang diperintahkan oleh ibunya. Berhari-hari mereka tidak makan daun segar dan tidak minum. Wajah mereka mulai tampak lesu dan mulai tidak kuat melihat godaan dari teman-temannya.

“Wah.. Kok murung, lapar ya?” goda ulat-ulat yang tidak mau berpuasa.

“iya nih, lapar sekali,” kata ulat yang sedang berpuasa.

“Makannya buat apa capek-capek berpuasa segala, mendingan kita makan daun-daun segar yang banyak, tidak usah perduli apakah kita akan menjadi kupu-kupu atau tidak, yang penting setiap hari kita bisa makan daun-daunan segar ini. Hahaha..” goda ulat-ulat tersebut.

Godaan selalu datang dari ulat-ulat yang tidak berpuasa, mereka sengaja makan dan minum di depan ulat yang tengah membuat kepompong ditubuhnya. Akhirnya, lama-kelamaan dua dari lima ulat yang berpuasa tidak tahan tergoda oleh kawan-kawannya. Tetapi, tiga yang lainnya tetap berpuasa.

“Aku akan tetap berpuasa, aku akan tetap jadi kepompong, lalu aku akan memiliki sayap yang indah dan bentuk badanku pasti jauh lebih baik dari ulat-ulat pemakan daun.” Tegas sang ulat kecil yang berpuasa.
Berhari-hari dilalui oleh ulat yang berpuasa, mereka terus mencoba bertahan. Hingga tiba saatnya, seluruh kepompong telah terbentuk sempurna di tubuh mereka. Lalu ulat-ulat kecil yang tidak berpuasa mengira mereka mati di dalam kepompong tersebut.

“hahaha.. lihatlah kawan, tiga ulat kecil yang masih di dalam kepompong tersebut pasti sebentar lagi mereka akan mati karena kelaparan.” Ejek ulat yang bertubuh gemuk dan besar.

“Ya pasti mereka akan mati,” sahut ulat yang lain.

Ulat-ulat yang tidak berpuasa dan mempunyai tubuh yang besar terus melahap daun-daun sehingga tubuh mereka terus bertambah besar dan terlihat kehitaman.

Lalu, tiba-tiba ada gerakan dari kepompong-kepompong tersebut dan seekor ulat gemuk mulai heran karena mereka menganggap bahwa ulat di dalam kepompong telah mati kelaparan. Kemudian, sesuatu terjadi perlahan-lahan, keluarlah sesosok mahluk yang begitu indah dari dalam kepompong. Mahluk tersebut memiliki kaki yang panjang dan kuat, juga memiliki antena dan yang paling menarik adalah corak dan warna sayapnya yang begitu indah.

Akhirnya, seluruh ulat-ulat besar itu terkejut. Mereka nampak bingung sekali. Sedangkan sang kupu-kupu kecil siap terbang kemana saja mereka suka dan menikmati madu dari berbagai jenis bunga.

“Sekarang, aku mau mencari madu yang manis dan enak. Selamat tinggal.” Seru kupu-kupu.

“Hai kupu-kupu kecil, ajaklah aku, bawa aku terbang bersamamu,” Ucap ulat-ulat pemakan daun.
Mereka berusaha mengejar kupu-kupu namun tidak bisa, mereka malah tersungkur jatuh kedalam genangan air. Sementara tiga kupu-kupu kecil menikmati hasil jerih payah yang selama ini mereka lakukan dengan berpuasa.

Sobat, maknailah kisah sang kupu-kupu menjadi pelajaran berharga bagi kehidupan kita. Alloh yang Maha Adil memberikan Ramadhan sebagai sarana kita untuk berusaha sekuat jiwa dan raga memperbaiki diri layaknya ulat yang rakus lalu menjadi kupu-kupu yang cantik dengan menahan segala nafsunya.

Keindahan corak dan warna pada manusia pun bukan dinilai dari mahalnya baju yang dipakai saat lebaran nanti, tetapi corak dan warna yang indah hanya terpancar dari hati-hati yang bersih, hati yang selalu mengingat sang Rabbul Izzati. Hingga saatnya Idul Fitri tiba lahirlah manusia-manusia yang suci seperti bayi yang baru terlahir di dunia. Wallahu’alam.

Sumber: Belajarlah Dari Kupu-Kupu