Pertanyaan

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Dalam Islamic Book Fair di Senayan Jakarta, hampir Sebagian besar penjaga dan pengunjungnya adalah umat Islam baik Ikhwan maupun Akhwat yang sudah jelas-jelas terjadi Ikhtilath.

Dalam pameran buku tersebut  mau tidak mau karena suasana yang berdesakan juga kadang kita saling bersenggolan dengan lawan jenis. bagaimana ustadz menanggapi fenomena ini?

Padahal niat kita adalah membeli buku, namun ternyata terjadi ikhtilat disana,apalagi sampai senggolan.apakah ini bisa dikategorikan darurat?mohon penjelasannya. Jazakumulloh Khoirol Jaza’.

Wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Ainul Wafa

Jawaban

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Suasana yang berdesakan di dalam pameran itu memang buat yang mengerti hukum dan batasan syariah, menjadi kendala tersendiri. Sebab seperti yang Anda katakan, akan terjadi senggolan badan, terutama antara pengunjung laki-laki dengan pengunjung perempuan yang bukan mahram.

Selain itu sebenarnya dari segi etika dan kenyamanan, buat sebagian kalangan, berbelanja buku kalau berdesakan seperti itu, malah membuatnya menjadi kurang menarik. Saya pribadi sengaja tidak mau datang kesana bukan apa-apa. Karena sudah membayangkan suasananya yang kurang nyaman.

Dari sisi hukum, urusan senggolan yang seharusnya tidak terjadi, alasan yang sering diajukan adalah darurat, karena jumlah pengunjung membeludak. Mungkin sekilas, alasan itu bisa diterima, mengingat tujuan utama dari pameran buku itu sendiri memang baik, yaitu menyediakan sarana ilmu dan pembelajaran, khususnya yang terkait dengan buku-buku keislaman.

Tetapi mengingat kejadiannya tiap tahun selalu terulang, kalau mau dibilang darurat kok rada jauh. Sebab yang namanya kasus darurat itu seharusnya tidak terjadi berulang kali. Cukup sekali atau dua kali saja terjadi dan kemudian bisa diantisipasi di kemudian hari. Memang hal-hal seperti ini agak kurang menjadi perhatian pihak penyelenggara.

Berdesakan di Tanah Suci Saat Haji

Kalau berdesakan yang terjadi di Arafah, Muzdalifah dan Mina saat berjuta orang melaksanakan ibadah haji, kita bisa maklum. Sebab waktunya memang terbatas dan tempat syiar haji pun juga terbatas. Sehingga urusan berdesakan memang sulit dihindari.

Ketiga wilayah itu secara hukum sudah tidak bisa lagi diperluas, karena batasannya ditetapkan berdasarkan dalil-dalil syar’i. Demikian juga dari segi waktu penyelenggaraan, hanya terbatas 4 hingga 5 hari saja dalam setahun, yaitu tanggal 9-12 atau 13 Dzulhijjah saja.

Maka kalau terjadi tumplek masa di ketiga tempat itu, memang tidak bisa dihindari lagi. Meski pun demikian, pemerintah Saudi Arabia telah membangun jalan-jalan yang bertingkat (fly over) dan juga terowongan, untuk mengantisipasi resiko berdesakan yang kerap menelan korban jiwa.

Pemerintah Saudi Arabia sendiri terus meluaskan masjid Al-Haram di Mekkah, sehingga ke depan nanti, gedung-gedung besar di sekeliling masjid akan digusur habis. Tentu semua ini memang diniatkan agar jamaah haji merasa nyaman dan tidak terlalu berdesakan.

Pameran Buku : Tidak Ada Ritual Waktu dan Tempat

Lain halnya dengan pameran buku. Tidak ada tempat yang tidak sah untuk diselenggarakan pameran itu. Juga waktunya pun sama sekali tidak ada batasan dari sisi syariah. Artinya, mau diadakan dimana saja dan kapan saja, tidak ada aturan syariah yang membelenggu.

Jadi tinggal panitia penyelenggara menyiasatinya secara lebih profesional. Bagaimana bisa menyediakan ruang pameran yang lebih nyaman tanpa harus berdesakan.

Harus diakui bahwa di antara sekian banyak pertimbangan memang pertimbangan finansial. Dengan menyewa gedung Istora Senayan yang sudah cukup luas itu, pihak penyelenggara pasti harus berhitung dengan jumlah pemasukan dan tentunya juga keuntungan.  Logika sederhananya, semakin banyak jumlah stand pameran bisa dijual, semakin besar pemasukan.

Dan yang lebih penting lagi, semakin membeludak pengunjung pameran, maka akan bertambah kemungkinan dagangannya lebih laris.

Semoga dugaan saya tidak benar bahwa jangan-jangan ada anggapan semakin pameran buku itu berdesakan, semakin menjadi ukuran kesuksesan penyelenggaraan. Sekali lagi, semoga dugaan saya salah.

Semoga panitia memang tetap punya keinginan luhur agar dapat menyediakan tempat pameran yang lebih manusiawi dan nyaman, terutama pada hari-hari terakhir pameran, dalam arti lebih antisipatif dalam menyediakan ruang bagi pengunjung, sehingga tidak harus terjadi kasus berdesakan yang tidak syar’i.

Tips

Saya punya tips kalau mau datang ke pameran buku tanpa harus berdesakan. Datanglah lebih awal atau mungkin pagi-pagi, maksudnya ketika stand-stand itu baru saja dibuka. Dan upayakan jangan datang di hari libur, Sabtu atau Ahad. Datanglah pada hari-hari kerja yang sepi, atau pada jam-jam yang sekiranya pameran masih sepi pengunjung.

Saya sendiri kalau belanja di suatu pusat perbelanjaan, untuk menghindari berdesakan pengunjung, maka saya datang pagi sekali. Bareng dengan mereka yang jadi penjaga toko. Anggap saja jadi penglaris buat dagangan mereka. Pagi-pagi membawa rejeki.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

Sumber: www.warnaislam.com