Pertanyaan

Assalamu’alakum ww,

Ustadz, baru-baru ini sahabat saya melangsungkan pernikahan dan ruang antara ikhwan dan akhwat terpisah termasuk kedua mempelai, tetapi sayangnya para akhwat melewati area (luar)ruang para tamu ikhwan, sehingga agak terlihat juga oleh para ikhwan.

Menurut ustadz pesta walimah yang baik dalam Islam itu yang bagaimana dan bagaimana anggapan sahabat saya yang lain bahwa dia minta kesediaannya untuk menghijabi hati saja tanpa hijab (dipisahnya tamu pria dan wanita)?

Jazakumullah khairan,

Ayanq0510@yahoo. Com

ayanq0510@yahoo.com

Jawaban

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Sekedar untuk diketahui bahwa hukum penggunaan hijab atau tabir pemisah antara laki-laki dan perempuan bukanlah sesuatu yang bersifat qath’i. Hukum kewajibannya tidak disepakati secara bulat oleh para ulama.

Sebagain dari mereka ada yang mewajibkan, namun sebagian lainnya tidak sampai mewajibkannya.

Namun semua pihak sepakat bahwa tidak boleh terjadi ikhtilat (campur baur) antara laki dan wanita. Semua sepakat untuk mengharamkan khalwah atau berduaan (menyepi) antara laki-laki dan wanita. Sebagaimana mereka juga sepakat bahwa para wanita diwajibkan untuk menutup aurat dan berpakaian sesuai dengan ketentuan syariat.

Yang menjadi perbedaan pendapat adalah apakah memasang kain tabir penutup antara ruangan laki-laki dan wanita, merupakan kewajiban ataukah hanya anjuran?

1. Pendapat Pertama: Mewajibkan Penggunakan Tabir

Mereka yang mewajibkan harus dipasangnya kain tabir penutup ruangan berangkat dari dalil baik Al-Quran maupun As-Sunah

1.1. Dalil Al-Quran:

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah-rumah Nabi kecuali bila kamu diizinkan untuk makan dengan tidak menunggu-nunggu waktu masak, tetapi jika kamu diundang maka masuklah dan bila kamu selesai makan, keluarlah kamu tanpa asyik memperpanjang percakapan. Sesungguhnya yang demikian itu akan mengganggu Nabi lalu Nabi malu kepadamu, dan Allah tidak malu yang benar. Apabila kamu meminta sesuatu kepada mereka, maka MINTALAH DARI BELAKANG TABIR.Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka. Dan tidak boleh kamu menyakiti Rasulullah dan tidak mengawini isteri-isterinya selama-lamanya sesudah ia wafat. Sesungguhnya perbuatan itu adalah amat besar di sisi Allah.(QS. Al-Ahzab: 53)

Ayat tersebut menurut mereka yang mendukung kewajiban penggunaan tabir dikatakan sebagai ayat yang mewajibkan penggunaan kain tabir penutup.

Meski perintahnya hanya untuk para isteri nabi, tapi menurut mereka hukumnya berlaku juga untuk semua wanita. Karena pada dasarnya para wanita harus menjadikan para isteri nabi itu menjadi teladan dalam amaliyah sehari-hari. Sehingga khitab ini tidak hanya berlaku bagi isteri-isteri nabi saja tetapi juga semua wanita mukminat.

1.2.Dalil As-Sunnah

Dari sisi sunnah nabawiyah, mereka mengajukan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Nabhan bekas hamba Ummu Salamah. Hadits itu menyebutkan bahwa Rasulullah SAW pernah berkata kepada Ummu Salamah dan Maimunah yang waktu itu Ibnu Ummi Maktum masuk ke rumahnya.

Nabi bersabda: `pakailah tabir`. Kemudian kedua isteri Nabi itu berkata: `Dia (Ibnu Ummi Maktum) itu buta!` Maka jawab Nabi: `Apakah kalau dia buta, kamu juga buta? Bukankah kamu berdua melihatnya?`

Hadits ini secara tegas menyebutkan bahwa kedua isteri nabiitu diwajibkan untuk menggunakan tabir ketika Abdullah bin Ummi Maktum yang buta masuk ke rumah mereka.

2. Pendapat Kedua: Tidak Mewajibkan Tabir

Para ulama yang lain tidak berpendapat bahwa hijab pembatas itu merupakan hal yang wajib. Ada beberapa argumentasi yang mereka kemukakan, antara lain:

2.1. Ayat Al-Quran Bersifat Khusus

Oleh para ulama yang mengatakan bahwa tabir penutup ruangan yang memisahkan ruangan laki-laki yang wanita itu tidak merupakan kewajiban, kedua dalil di atas dijawab dengan argumen berikut:

Ayat 53 surat Al-Ahzab yang mewajibkan meminta dari balik tabir itu berlaku hanya untuk pada isteri Nabi, tidak berlaku untuk semua wanita. Hal itu karena posisi para isteri Nabi memang wara wanita yang mulia dan tinggiderajatnya, sehingga salah satu bentuk penghormatan kepada mereka adalah dengan tidak boleh bertemu langsung, kecuali dari balik hijab.

Sedangkan terhadap wanita mukminah umumnya, tidak menjadi kewajiban harus memasang kain tabir penutup ruangan yang memisahkan ruang untuk laki-laki dan wanita.

Dan bila mengacu pada asbabun nuzul ayat tersebut, memang kelihatannya memang diperuntukkan kepada para isteri nabi saja.

Dan di dalam ayat lain secara tegas disebutkan bahwa posisi para isteri nabi memang berbeda dari wanita lain.

Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik. (QS. Al-Ahzab: 32)

2.2.Hadits Bermasalah

Ada dua cacat dari hadits Abdullah bin Ummi Maktum yang dikemukakan. Pertama, kalangan ahli hadits mengatakan bahwa hadits Ibnu Ummi Maktum itu merupakan hadis yang tidak sah alias lemah, tidak shahih. Pasalnya ada seseorang yang bernamaNabhan dalam urutan perawinya yang menurut para ahli riwayat, omongannya tidak dapat diterima.

Kedua, kalau seandainyapendapat kecacatan Nabhan masih bisa dibela, sehingga hadits ini naik derajatnya menjadi hadis ini sahih, tetap saja tidak bisa digunakan sebagai dalil kewajiban kain tabir penghalang buat semua wanita.

Mengapa? Karena nabi SAW hanya memerintahkan hal itu kepada isterinya, tidak kepada semua wanita muslimah. Sehingga tetap disimpulkan bahwa perintah itu hanya berlaku buat para isteri nabi, dan tidak berlaku buat wanita lain.

2.3.Dalil lainnya: Isteri yang Melayani Tamu-Tamu Suaminya

Hujjah lainnya yang mendukung pendapat tidak wajibnya hijab adalah banyak pendapat para ulama yang mengatakan bahwa seorang isteri boleh melayani tamu-tamu suaminya di hadapan suami, asal dia melakukan tata kesopanan Islam, baik dalam segi berpakaiannya, berhiasnya, berbicaranya dan berjalannya.

Pendapat para ulama itu didasari dari hadits-hadits yang menyebutkan bahwa para isteri shahabat biasa bertemu dengan lawan jenis mereka, tidak ada kewajiban untuk menggunakan penghalang atau tabir.

Sahal bin Saad al-Anshari berkata sebagai berikut: `Ketika Abu Asid as-Saidi menjadi pengantin, dia mengundang Nabi dan sahabat-sahabatnya, sedang tidak ada yang membuat makanan dan yang menghidangkannya kepada mereka itu kecuali isterinya sendiri, dia menghancurkan (menumbuk) korma dalam suatu tempat yang dibuat dari batu sejak malam hari. Maka setelah Rasulullah SAW selesai makan, dia sendiri yang berkemas dan memberinya minum dan menyerahkan minuman itu kepada Nabi.` (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Dari hadis ini, Ibnu Hajar Al-Asqallani berkomentar: `Seorang perempuan boleh melayani suaminya sendiri bersama orang laki-laki yang diundangnya…`

Tetapi tidak diragukan lagi, bahwa hal ini apabila aman dari segala fitnah serta dijaganya hal-hal yang wajib, seperti hijab. Begitu juga sebaliknya, seorang suami boleh melayani isterinya dan perempuan-perempuan yang diundang oleh isterinya itu.

Dan apabila seorang perempuan itu tidak menjaga kewajiban-kewajibannya, misalnya soal hijab, seperti kebanyakan perempuan dewasa ini, maka tampaknya seorang perempuan kepada laki-laki lain menjadi haram.

2.4.Masjid Nabawi di Zaman NabiTidak Memakai Tabir

Pandangan tidak wajibnya tabir didukung pada kenyataan bahwa masjid Nabawi di masa Rasulullah SAW masih hidup pun tidak memasang kain tabir penutup, yang memisahkan antara ruangan laki-laki dan wanita. Bahkan sebelumnya, mereka keluar masuk dari pintu yang sama, namun setelah junmlah mereka semakin hari semakin banyak, akhirnya Rasulullah SAW menetapkan satu pintu khusus untuk para wanita.

Hanya saja Rasulullah SAW memisahkan posisi shalat laki-laki dan wanita, yaitu laki-laki di depan dan wanita di belakang.

Kesimpulan

Maka kesimpulan singkat yang bisa kami kemukakan, urusan hijab atau tabir pemisah batas antara ruang laki-laki dan wanita adalah urusan khilafiyah, bukan perkara qath’i dan bukan harga mati.

Sebegitu banyak dalil yang menunjukkan ketidak-wajibannya, sebagaimana juga banyak yang mewajibkannya.

Ketika kita memilih untuk mewajibkan hijab, tentu bukan berarti itu adalah satu-satunya kebenaran yang bersifat mutlak. Apalagi sampai mencela dan menuduh bahwa mereka yang tidak menggunakan hijab sebagai orang yang tidak Islami, tidak sesuai sunnah nabi, atau keluar dari Syariah Islam.

Dan sebaliknya, ketika kita memilih untuk tidak mewajibkan hijab, tidak lantas kita mencela saudara kita yang memasang hijab sebagai ekstrimis, fundamentalis, sok suci atau beragam ungkapan celaan yang lain.

Kenapa kita tidak bisa saling bertenggang-rasa?

Ada sebegitu banyak perkara khilafiyah di tengah kita, yang memang tidak akan bisa dihindari. Lalu mengapa kita masih saja sampai hati untuk tidak berhenti dari mencela, mengejek, melecehkan atau menuduh sesat dan seterusnya?

Apakah dengan mencela, lalu orang akan mendapat ilmu dan hidayah?

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

Sumber: www.warnaislam.com